Di sebuah pesantren kecil yang tenang, hiduplah seorang gadis yang masih berada di bangku kelas 3 SD bernama Alvina. Dengan jilbab yang selalu rapi , dan hampir setiap hari ia membawa tas kain yang tampak lebih berat dari tubuhnya. Bukan karena buku pelajaran—melainkan karena buku-buku cerita.
Alvina mencintai kata-kata sejak kecil.
Baginya membaca dan menulis adalah caranya berekspresi.
Ketika anak-anak lain berlarian di lapangan setelah pulang sekolah, Alvina sering duduk di bawah pohon mangga di dekat pondok tempatnya menimba ilmu. Di tangannya selalu ada buku. Kadang novel petualangan, kadang buku puisi, kadang cerita rakyat dari berbagai daerah.
Baginya, membaca bukan sekadar kegiatan.
Membaca adalah perjalanan.
Dengan satu halaman, ia bisa berada di istana kerajaan.
Dengan satu paragraf, ia bisa menyelam ke dasar laut.
Dengan satu puisi, ia bisa memahami perasaan manusia.
Suatu hari, guru bahasa Indonesia di sekolahnya memberi tugas:
“Tulislah satu cerita tentang sesuatu yang kalian cintai.”
Teman-temannya menulis tentang hobi bermain bola, memasak, atau hewan peliharaan.
Alvina menulis tentang
“Perpustakaan kecil di sudut pesantren”
Perpustakaan itu tua. Rak kayunya sedikit miring, dan beberapa buku sudah menguning. Tetapi bagi Alvina, tempat itu seperti rumah kedua.
Ia menulis dengan tulisan sederhana yang nyaris belum rapi:
“Bagi orang lain, perpustakaan hanya ruangan penuh buku.
Tapi bagi saya, itu adalah rumah yang terbuat dari kata-kata.”
Cerita Alvina sederhana, tetapi tulus.
Ia menulis tentang bagaimana buku-buku membuatnya mengerti dunia, memahami orang lain, dan bermimpi lebih jauh dari kota kecilnya.
Seminggu kemudian, gurunya memanggil Alvinaa ke depan kelas.
“Cerita Alvina akan kita kirim ke lomba literasi tingkat kota,” kata gurunya sambil tersenyum.
Alvina terkejut. Ia tidak pernah membayangkan tulisannya dibaca orang lain.
Beberapa bulan kemudian, kabar datang.
Cerita Alvina menang.
Bukan hanya karena bahasanya indah, tetapi karena juri merasakan sesuatu yang jarang ditemukan: cinta yang tulus pada literasi.
Sejak hari itu, Alvina semakin sering menulis. Ia membantu menghidupkan kembali perpustakaan kecil di pesantrennya. Ia mengajak anak-anak datang membaca, bercerita, dan menulis.
Alvina percaya satu hal:
Satu buku bisa mengubah satu pikiran.
Satu tulisan bisa mengubah satu kehidupan.
Dan mungkin…
suatu hari nanti, kata-kata yang ia tulis akan menjadi rumah bagi orang lain juga.
Salam literasi💫