Pagi itu, suasana ujian tengah semester kelas 4 Ar Rahman SD Islam Tahfidz Qur’an As Syafiiyah berlangsung seperti biasa. Ada yang keningnya sedikit berkerut karena serius mengerjakan soal matematika, ada yang mulai berbisik pelan dengan temannya, sementara beberapa yang lain tampak sibuk memainkan benda kecil dari dalam tas. Ruang kelas tetap terkendali, tapi penuh dengan dinamika khas anak-anak sekolah dasar. Di tengah suasana itu, ada satu pemandangan sederhana yang diam-diam menarik perhatian. Seorang siswa yang sudah menyelesaikan ujiannya tidak ikut larut dalam obrolan. Ia juga tidak terlihat mencari kesibukan seperti temannya yang lain. Dengan tenang, ia mengambil sebuah buku cerita dari tasnya, lalu mulai membaca lembar per lembarnya. Diam, tenang dan fokus. Seolah waktu luang itu memang sudah ia siapkan untuk bertemu kembali dengan lembar-lembar cerita favoritnya.
Tak ada yang memintanya melakukan itu. Tak ada juga yang menyuruhnya membuka buku. Ia melakukannya karena ingin. Sesekali ia tampak tersenyum kecil membaca bagian yang lucu. Halamannya terus berpindah. Sementara di sekitarnya, teman-temannya masih dengan aktivitas mereka masing-masing, ia bahkan tak terpengaruh dan memilih tenggelam dalam dunia imajinasi.
Pemandangan itu tampak sederhana, tapi terasa hangat dan menyentuh hati. Di usia kelas 4 sekolah dasar, ketika bermain adalah hal yang sangat wajar dan menyenangkan, ia tetap memilih membaca. Bukan berarti bermain itu salah. Bukan juga berarti ia lebih baik dari yang lain. Namun, kebiasaan kecil itu menunjukkan bahwa membaca sudah menjadi bagian dari dirinya. Pembiasaan aksara pagi di sekolah pelan-pelan sudah tumbuh pada dirinya, dan perlahan membentuk karakternya.
Literasi bukan hanya soal bisa membaca dengan lancar. Literasi adalah tentang memilih membaca, ketika ada waktu. Tentang menganggap buku sebagai teman, bukan beban. Dan tentang memahami, membayangkan, serta mengolah ulang apa yang telah dibaca.
Di ruang kelas yang mulai riuh itu, seorang anak sedang menanam kebiasaan yang mungkin kelak akan membawanya jauh. Karena budaya literasi tidak lahir dari program besar semata, tetapi dari momen-momen kecil, seperti seorang siswa yang memilih membuka buku cerita saat yang lain menunggu ujian waktu berlalu.